Mata kuliah Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan di Program Studi Magister Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta kembali menghasilkan luaran akademik yang berdampak nyata bagi dunia kesehatan. Pada semester 3 ini, Sri Annisapada Jamaru berhasil merampungkan sebuah Policy Brief yang mengangkat isu strategis tata kelola layanan ASI di rumah sakit daerah, dengan judul “Penguatan Manajemen ASI Perah dan Pelayanan Laktasi di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Kabupaten Tanah Bumbu”. Penulisan karya ini didampingi oleh Cesa Septiana Pratiwi, M.Mid., PhD sebagai pembimbing institusi dan Dini Irma Irliani, SKM., M.Kes sebagai pembimbing lahan.
Kajian ini berangkat dari fakta bahwa ASI merupakan standar emas nutrisi bayi, terutama bagi bayi prematur dan bayi dengan kondisi medis khusus. Merujuk pada berbagai meta-analisis dan systematic review internasional, pemberian ASI manusia, baik langsung dari ibu maupun melalui donor human milk, terbukti secara konsisten menurunkan risiko necrotizing enterocolitis (NEC), sepsis, dan kematian neonatal secara signifikan dibandingkan susu formula. WHO dan UNICEF pun menegaskan bahwa optimalisasi pemberian ASI berkontribusi langsung pada pencapaian target kesehatan ibu dan anak secara global.
Namun di lapangan, kondisinya belum sepenuhnya ideal. Evaluasi di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Kabupaten Tanah Bumbu mengungkap bahwa meski layanan laktasi telah berjalan, tiga tantangan utama masih menghambat efektivitasnya: terbatasnya tenaga kesehatan terlatih di bidang laktasi, belum optimalnya sistem pendukung pemberian ASI, serta belum terintegrasinya manajemen ASI perah ke dalam alur pelayanan perinatologi secara komprehensif. Kondisi ini berpotensi menghambat pemanfaatan ASI secara maksimal, khususnya bagi bayi-bayi yang menjalani perawatan di ruang intensif neonatal.
Merespons kondisi tersebut, policy brief ini mengajukan tiga rekomendasi kebijakan yang dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak manajemen rumah sakit. Pertama, menjadikan penguatan manajemen laktasi sebagai prioritas strategis dalam peta jalan peningkatan mutu pelayanan ibu dan bayi. Kedua, membangun sistem layanan laktasi yang terintegrasi, mencakup prosedur penyimpanan, distribusi, dan pemantauan kualitas ASI perah serta donor human milk secara aman dan terstandar. Ketiga, mendorong kolaborasi aktif antara jajaran manajemen rumah sakit, tenaga kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam implementasi kebijakan laktasi yang berkelanjutan.
Dari sisi regulasi, rekomendasi-rekomendasi ini sepenuhnya berlandaskan pada kebijakan nasional yang telah ada, yakni PP No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, serta UU No. 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak. Selain itu, kajian ini juga selaras dengan penekanan WHO bahwa penguatan layanan laktasi di rumah sakit merupakan strategi yang terbukti efisien secara biaya dalam menekan beban komplikasi neonatal.
Melalui karya ini, mahasiswa S2 Kebidanan Unisa Yogyakarta membuktikan bahwa ruang akademik mampu menjadi motor penggerak perubahan nyata di lapangan, menghadirkan solusi berbasis bukti untuk tantangan pelayanan kesehatan ibu dan bayi di tingkat fasilitas kesehatan daerah.