Pernikahan dini dan kehamilan remaja masih menjadi persoalan kesehatan yang belum tuntas di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Magister Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menghadirkan sebuah inovasi program edukasi berbasis pemberdayaan masyarakat sebagai luaran mata kuliah Praktik Pemberdayaan dalam Praktik Kebidanan. Program bertajuk “KEREN CERIA: Kesehatan Reproduksi, Mental dan Mencegah Pernikahan Dini pada Remaja” ini dilaksanakan di wilayah Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, dan menghasilkan Policy Brief Poster yang dipublikasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.

Program ini dirancang dan dilaksanakan oleh tujuh mahasiswa, yakni Nurul Fitriyah, Izza Fitrotun Nisa’, Sri Annisapada Jamaru, Viana Bari Umaroh, Rahmawati, Frederika Eufrasia Lawo, dan Sandra da Costa Neto, di bawah bimbingan Andari Wuri Astuti, MPH., Ph.D selaku dosen pembimbing dari Program Studi Kebidanan Program Magister Unisa Yogyakarta. Kegiatan ini juga terselenggara atas dukungan BKKBN Perwakilan DIY dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Kemantren Mergangsan.

Urgensi yang Mendesak

Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 23,9% pernikahan pertama di Indonesia terjadi pada usia 15-19 tahun, dengan angka kehamilan remaja mencapai 1,97%. Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, kasus pernikahan dini bahkan tercatat meningkat dua kali lipat pada tahun 2020 dibandingkan tahun sebelumnya. Rendahnya literasi remaja tentang kesehatan reproduksi dan mental, ditambah minimnya keterbukaan komunikasi dalam keluarga, menjadi akar masalah yang mendorong tren tersebut.

Kondisi inilah yang mendorong tim mahasiswa bimbingan Andari Wuri Astuti, MPH., Ph.D untuk merancang intervensi edukatif yang menjangkau dua sasaran sekaligus: remaja itu sendiri dan orang tua mereka.

Strategi Edukasi Dua Arah

Kegiatan dilaksanakan secara bertahap sepanjang Juni 2025, mulai dari analisis situasi dan pengumpulan data awal pada 2-3 Juni, dilanjutkan penyuluhan kepada orang tua pada 10 Juni, edukasi kepada remaja di berbagai wilayah kelurahan: Wirogunan, Brontokusuman, dan Keparakan, pada 13-14 Juni, hingga analisis data dan penyusunan laporan akhir pada 15-21 Juni 2025.

Sasaran program meliputi orang tua remaja di wilayah Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Kemantren Mergangsan, perwakilan kader remaja dari setiap RW di tiga kelurahan, serta tokoh masyarakat seperti ketua RW, kader KB, dan lurah setempat. Pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan bina suasana, yakni menyebarkan informasi melalui tokoh-tokoh kunci yang berpengaruh di komunitas.

Materi edukasi disampaikan melalui ceramah interaktif berbantuan media PowerPoint dan booklet yang memuat informasi seputar kesehatan reproduksi, kesehatan mental, pencegahan pernikahan dini, serta panduan peran orang tua. Efektivitas program dievaluasi menggunakan kuesioner pretest-posttest dan sesi tanya jawab interaktif.

Hasil yang Menjanjikan

Dari 140 sasaran yang ditargetkan, sebanyak 115 peserta (82%) berhasil dilibatkan dalam seluruh rangkaian kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada seluruh kelompok sasaran, baik pada kelompok orang tua maupun remaja, sebagaimana tercermin dalam perbandingan skor pretest dan posttest yang meningkat nyata.

Tiga Rekomendasi Strategis

Berdasarkan temuan di lapangan, policy brief ini merumuskan tiga rekomendasi utama. Pertama, penguatan kapasitas remaja melalui edukasi kesehatan reproduksi dan mental yang berkelanjutan agar mereka mampu mengambil keputusan hidup yang lebih bijak. Kedua, perluasan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi sosial untuk menjamin konsistensi promosi kesehatan di masyarakat. Ketiga, peningkatan keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak sebagai fondasi utama pencegahan pernikahan dini dari dalam keluarga.

Program KEREN CERIA membuktikan bahwa pendekatan edukasi dua arah yang melibatkan remaja dan orang tua secara bersamaan mampu membuka ruang komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga, sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat. Di bawah bimbingan Andari Wuri Astuti, MPH., Ph.D, program ini diharapkan dapat diadopsi lebih luas sebagai strategi konkret dalam membentuk generasi muda yang sehat, berdaya, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.